Sejarah Masjid Salam Wapena, Austria

Sejarah Masjid Salam Wapena, Austria – Sejarah Masjid Salam Wapena, AustriaWarga kota Wina atau disingkat pembacaan Wapena yakni group pembacaan Majelis ‘ Muslim Indonesia yang tinggal di Wina, Austria. Saat ini ada sekitaran 180 200 warga Muslim Indonesia yang tinggal di Austria. Kontrol teratur mingguan ditangani di kantor perwakilan Indonesia di Wina. Pengajian Wapena lantas juga itu Indonesia oleh Muslim bukan hanya, tetapi juga perlihatkan yang diramaikan oleh Malaysia dan Singapura Muslim tinggal di Austria. Bahkan Malaysia dengan duta besar untuk Austria, Datuk Mohammad Daud Juga sering ikuti diadakannya acara yang, pastinya, jadi nya penggerak Muslim Malaysia di Wina.

Sejarah Masjid Salam Wapena, Austria

 

Duber RI ke Austria dengan pengurus Wapena di pintu masjid Salam Wapena tidak lama setelah pembukaan masjid.
Wacana untuk buat Masjid sebenarnya telah berkembang selama sepuluh th.. Namun, penciptaan satu masjid di kota Wina yakni tidaklah masalah mudah, kecuali yang masalah perizinan yg tidak mudah, tetapi membutuhkan dana yang besar. Oleh karena itu, Wapena dan lantas berupaya untuk mewujudkan yang diimpikan memiliki masjid sendiri yang ikuti jalur yang telah di buat oleh Muslim Indonesia di Jerman, yang buat Masjid al-Falah di Berlin pada lantai basic Gedung apartemen di pusat Berlin.

Seperti diterangkan oleh Andi Ahmad Junirsah ACHA, Presiden Wapena, yang saat buat ide Masjid di buat, berupaya untuk berlaku realistis. Dengan buat keinginan memiliki Kontraktor Kubah Masjid sendiri, termasuk pertanyaan tentang dana yang diperlukan harus bisa mencapai. Untuk Tat, ia mendengar berita bila komune Muslim Pakistan akan tutup kesibukan Masjid Makki, dengan ide untuk kembalinya Raffi Dr yang telah memimpin masjid.

Ini yakni bagaimana kehangatan kondisi Ikhwanul Muslimin Indonesia di Wina, Austria, bln. Suci Ramadhan.
Kenali berita itu, Acha Wapena Pengurus koordinat dengan orang yang beda, mengecek selekasnya ke tempat, dan setelah bicara pada manajer masjid dalam hitungan hari, ia memutuskan untuk melanjutkan pengelolaan Masjid Muslim Pakistan dengan beberapa pertimbangan yang untungkan, termasuk beberapa isu yang terkait dengan perizinan. Peran bangunan sudah terdaftar jadi tempat melaksanakan ibadah sampai tidak juga akan diperlukan untuk mengurus perizinan untuk pendirian tempat melaksanakan ibadah, dan Wapena jadi manajer baru yang mungkin saja, telah terdaftar di kepolisian dan pemerintah kota Wina. Jadi negara Wapena hanya kerjakan untuk menyimpang dari pengelola Masjid kuno.

Terlebih dulu jadi satu masjid, Kamar dulunya 1/2 dari tipe olahraga gym. Warga Muslim Bosnia dan Makedonia yang mengerjakannya untuk pertama kalinya jadi masjid, dan lantas didepan 2011 warga Muslim Pakistan yang memimpin Dr Rafi memperluas Masjid manajemen relay. Jadi manajer baru, ia di panggil dengan nama Muslim masjid dari Pakistan dari Makki, arti lain kota suci Mekkah. Hanya saja, tidak setahun manajemen, kesibukan Peribadahan di masjid Makki terancam berhenti sepanjang Dr Raffi ide kembali ke Pakistan. Kesempatan baik bila tidak ada yang disia kelalaian untuk Wapena.

Pendirian Masjid U. S. -Salam di Austria jadi tempat Berhimpunnya Muslim Indonesia, Muslim Malaysia dan Singapura, serta tidaklah untuk melupakan caretaker Masjid USA U. salam juga mengundang Muslim Pakistan yang caretaker masjid atau Jemaat terlebih dulu sisa gabungan, dan pastinya masjid ini terbuka untuk semua Muslim. Selain itu, hadirnya Masjid Salam Wapena di Wina ini menambah serupa Masjid Indonesia Masjid di daratan Eropa setelah sebelumnya telah berdiri dua masjid di Belanda untuk kenali Masjid al-hikmah di sarang penyihir dan Nasuha di Rotterdam, serta Masjid al-Falah di Berlin-Jerman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *